Rabu, 28 Maret 2012

Aspek Legal Dan Etika

Hipocrates yang diikuti sumpahnya oleh dokter-dokter dibeberapa negara secara tegas mengatakan bahwa informasi kesakitan hanya dapat diberikan kepada orang lain untuk kepentingan si sakit atau orang-orang yang secara langsung mempunyai kewajiban merawatnya. Dalam sumpah Hipocrates tidak mengandung pernyataan secara eksplisit tentang bagaimana pemberian informasi untuk kepentingan orang banyak (masyarakat). Namun demikian, para ahli kedokteran di Eropa mempunyai konsensus bahwa informasi kesakitan dapat diberikan kepada orang lain dengan alasan sebagai berikut :
a.    Jelas ada beban dari masyarakat sekitarnya untuk mengeluarkan data perorangan
b.    Jikalau data diperlukan secara hukum
c.    Jika untuk kepentingan penelitian dan tidak dapat minta persetujuan langsung dari si sakit
d.    Jika pasien secara sukarela memberikan informasi kepada orang-orang yang ditunjuk
Dengan demikian tidak setiap data penyakit dan kesakitan dari individu dapat diambil begitu saja persetujuan dengan yang bersangkutan. Untuk itu pada setiap pengumpulan datta diminta persetujuannya dan dijaga jangan sampai mengeluarkan identitas penderita tanpa tujuan-tujuan tertentu.
a.    Prinsip Umum Etika
Ada tiga hal secara prinsip umum etika dasar dalam bidang kesehatan yang harus dipertimbangkan :
1)    Menghormati setiap subjek, termasuk mengenai otonomi dan proteksi bagi seseorang yang lemah karena tidak bisa melakukan otonominya.
2)    Keuntungan, tidak menimbulkan  kerugian-kerugian dalam bentuk apapun, baik secara moral ataupun fisik.
3)    Keadilan, termasuk haknya untuk mengetahui informasi yang diperlukan
b.    Prinsip Etika dalam Epidemiologi
            Masalah pokok dalam etika epidemiologi adalah memberikan justifikasi yang seimbang antara kepentingan individu dan kelompok. Surveilans penyakit di satu sisi dapat merugikan kepentingan seorang individu, tetapi sekaligus memberikan hasil yang sangat bemanfaat untuk kelompok.

Maksud dan Tujuan Surveilans Kesehatan Masyarakat

Selanjutnya kita beralih ke apakah maksud dan tujuan surveillance kesehatan masyarakat yaitu :
Menjelaskan penyakit yang sedang berlangsung yang dapat dikaitkan dengan tindakan-tindakan/intervensi kesehatan masyarakat.
Definisi surveilans menurut WHO menjelaskan bahwa surveilans dapat diartikan sebagai aplikasi metodologi dan teknik epidemiologi yang tepat untuk mengendalikan penyakit. Dalam kamus epidemiologi sering disebutkan pula bahwa maksud utama dari surveilans adalah untuk mendeteksi perubahan pada trend atau distribusi penyakit dalam rangka memulai penyelidikan atau melakukan tindakan pengendalian kadang kala obyektif ini digunakan sebagai alat untuk mengevaluasi tindakan pengendalian penyakit dan penyediaan data untuk perencanaan pelayanan kesehatan.
Penjelasan tentang pola penyakit yang sedang berlangsung  dapat diuraikan beberapa contoh kegiatan yang dilakukan sebagai berikut:
a.    Melakukan deteksi perubahan akut dari penyakit yang terjadi dan distribusinya.
b.    Melakukan identifikasi dan perhitungan trend dan pola penyakit menurut frekuensi kejadiannya.
c.    Melakukan identifikasi faktor risiko dan penyebab lainnya, seperti vektor yang dapat menyebabkan penyakit di kemudian hari.
d.    Mendeteksi perubahan pelayanan kesehatan  yang terjadi di masyarakat.
Penggunaan data untuk evaluasi serta pengendalian dan pencegahan penyakit dapat berkaitan dengan hal-hal sebagai berikut:
a.    Beberapa informasi tentang penyakit menstimulasi untuk pelaksanaan riset lebih lanjut tentang proses terjadinya penyakit, misalnya sumber-sumber penyebab penyakit memungkinkan untuk dieksplorasi secara mendalam.
b.    Informasi tentang pola penyakit dan kecenderungannya sangat penting untuk perencanaan pelayanan kesehatan dimasa mendatang karena dapat dijadikan landasan yang kokoh dalam pengambilan keputusan.
c.    Evaluasi dan tindakan pencegahan, misalnya evaluasi terhadap program vaksinasi.

Dalam upaya mempelajari riwayat alamiah penyakit (natural history of disease) dan epidemiologi penyakit, khususnya untuk mendeteksi epidemi penyakit melalui pemahaman riwayat penyakit, dapat membantu beberapa hal sebagai berikut:
a.    Membantu menyusun hipotesis untuk dasar pengambilan keputusan dalam intervensi kesehatan masyarakat.
b.    Membantu untuk mengindetifikasi penyakit untuk keperluan penelitian epidemiologi.
c.    Mengevaluasi program-program pencegahan dan pengendalian penyakit.
d.    Memberikan informasi dan data untuk memproyeksikan kebutuhan pelayanan kesehatan dimasa mendatang.
Informasi kesehatan yang berasal dari data dasar pola penyakit sangat penting untuk menyusun perencanaan dan untuk mengevaluasi hasil akhir dari intervensi yang telah dilakukan. Semakin kompleksnya proses pengambilan keputusan dalam bidang kesehatan masyarakat, memerlukan informasi yang cukup handal untuk mendeteksi adanya perubahan-perubahan yang sistematis dan dapat dibuktikan dengan data (angka).

Sejarah Perkembangan Surveilans

Lebih dari 6 (enam) abad lalu, konsep keilmuan surveilans mortalitas dan morbiditas mulai muncul di Eropa. Sejak jaman “Renaissance tersebut, konsepnya kemudian meluas ke benua Amerika bersama-sama dengan berbondong-bondongnya mereka memasuki benua tersebut. Perkembangan surveilans semula hanya berkaitan dengan penyakit yang mengancam jiwa manusia sehingga kematian karena penyakit tertentu yang menjadi perhatian saat itu.
1.    Abad ke Empat Belas dan Kelima Belas.
Pada sekitar tahun 1348 di Eropa terjadi epidemi atau wabah penyakit pneumonia karena pes (pneumonia plague) dan dikenal dengan istilah “Black Death”. Akibat wabah tersebut, Republik Venesia (The Venetian Republic) mengangkat pengawas kesehatan yang bertugas untuk mendeteksi dan menolak kapal-kapal yang memiliki penumpang terinfeksi penyakit pes sebelum memasuki negara tersebut. Deteksi penyakit ini merupakan tindakan yang dapat dianggap sebagai kegiatan surveilans yang dilakukan secara primitif oleh suatu negara dibenua Eropa untuk pertama kalinya. Tindakan yang bersejarah berikutnya adalah dimulainya untuk melakukan penahanan selama 40 hari bagi pendatang yang berasal dari daerah dengan epidemi pes selama 40 hari di Marseilles (1377) dan Venisia (Venise) pada tahun 1403, tindakan ini kemudian dikenal sebagai tindakan karantina yang pertama kali dilakukan bagi penderita diduga menjadi penyebar penyakit menular, yaitu penderita pes.
2.    Abad Keenam Belas
Pencatatan kematian mulai dilakukan di beberapa kota-kota besar di negara Eropa sejak abad ke enambelas yang lalu. Undang-undang tentang kematian di London atau yang dikenal dengan “London Bills of Mortality” dipersiapkan pada tahun 1532 oleh seseorang yang sampai sekarang tidak diketahui namanya. Namun demikian baru beberapa abad kemudian manfaat secara ilmiah hasil pencatatan tersebut pada bidang kesehatan masyarakat diperkenalkan oleh John Graunt.
  1. Abad Ketujuh Belas
Pada abad ini, pencatatan kematian yang dilakukan secara sporadis dan hanya dilakukan apabila ada wabah pest, mulai diterbitkan. Para sekretaris paroki (Parish Clerks) di ibukota London mulai mencatat dan melaporkan setiap minggunya, tentang orang-orang yang dikubur dan penyebab kematiannya pada “The Hall of Parish Clerks” Company. Oleh sekretaris Hall kemudian disusun laporan statistik kematian di London dan digabungkan dari beberapa Paroki serta diinterpretasi bagaimana keadaan penyebab wabah pes di kota London. Laporan ini kemudian diterbitkan secara mingguan kepada yang memerlukan dan disebut dengan “Bill Mortality” sehingga tindakan yang sesuai dapat diambil secara konkrit. Hal tersebut dapat dikenali sebagai surveilans yang sampai sekarang prinsipnya masih relevan dalam mengumpulkan data, data yang dikumpulkan diolah dan diinterpretasi, kemudian disebarluaskan hasilnya sehingga dapat dipakai untuk pertimbangan pengambilan keputusan dalam pelayanan kesehatan. Laporan mingguan secara ilmiah disusun pertama kali oleh John Graunt pada tahun 1662. Laporan ini memuat informasi tentang jumlah penduduk kota London dan jumlah yang meninggal karena sebab tertentu. Dengan demikian John Graunt adalah orang yang pertama kali yang mempelajari konsep jumlah dan pola penyakit secara epidemiologis, yang menerbitkan buku yang berjudul “Natural and Political Observation on the Bills of Mortality”.
  1. Abad Kedelapan Belas
Pada tahun 1776, Johan Peter Frank melaksakanan tindakan surveilans dengan mengangkat polisi kesehatan di Jerman, yang tugasnya berkaitan dengan pengawasan kesehatan anak sekolah, pencegahan kecelakaan, pengawasan kesehatan ibu dan anak, dan pemeliharaan sanitasi air serta limbah. Frank menyusun buku yang menyajikan secara jelas dan rinci tentang kebijaksanaannya tentang kesehatan, yang mempunyai dampak pada negara-negara sekitarnya, seperti Hongaria, Italia, Denmark dan Rusia.
Dalam abad yang sama (1741), surveilans dasar ini dilaksanakan di beberapa koloni Amerika. Tahun 1741 negara bagian “Rhode Island” mengeluarkan peraturan bahwa pegawai restoran wajib melaporkan penyakit menular yang diderita oleh rekan-rekannya. Dua tahun kemudian, negara bagian ini menyetujui keharusan lapor bagi penderita cacar, demam kuning dan kolera.
  1. Abad Kesembilan Belas
William Farr dikenal sebagai penemu konsep surveilans secara modern. Sebagai “Superintendant of Statistical Department of the General Registrar’s Office” di Inggris Raya dari tahun 1839-1879. Farr bertugas mengumpulkan, mengolah, menganalisa dan menginterpretasi statistik vital serta menyebarluaskan hasilnya dalam bentuk laporan mingguan, bulanan dan tahunan. Farr tidak hanya berhenti untuk mempublikasikan angka-angka statistik secara rutin, tetapi menulis beberapa laporan dalam jurnal kedokteran dan memanfaatkan media massa untuk menyebarluaskan informasinya dan melihat bagaimana orang lain memanfaatkan hasil laporannya. Pada abad yang sama, tindakan Farr diikuti dan diperluas oleh Edwin Chadwick yang meneliti hubungan antara kondisi lingkungan dan penyakit. Louis Rene Villerme Shattuck juga mempublikasi hubungan antara kematian bayi, anak dan ibu dengan kondisi lingkungan di Amerika Serikat. Kebutuhan akan data penyebab kematian yang lebih akurat mendorong pemerintah Inggris untuk membentuk Kantor Pencatatan Umum pada tahun 1836 dan pada tahun berikutnya diberlakukan pencatatan dan pemberian sertifikat kematian. Kemudian diusulkan agar disusun nomenklatur internasional nama-nama penyakit dan penyebab kematian, mencakup jenis kelamin, umur, kondisi daerah dan faktor-faktor demografis lainnya. Daftar internasional tentang nama-nama penyakit penyebab kematian diperkenalkan pada tahun 1893. Karena jasa-jasanya tersebut William Farr dikenal sebagai bapak pendiri konsep surveilans secara modern.
  1. Abad kedua Puluh
            Meningkatnya pemakaian konsep surveilans untuk pendekatan epidemi dan pencegahan penyakit infeksi mulai dikenal pada abad ke duapuluh. Pada tahun 1889 Inggris Raya mulai mengeluarkan peraturan wajib lapor bagi penyakit-penyakit infeksi. Pelaksanaan wajib lapor penyakit demam kuning, pes dan cacar mulai diberlakukan pada tahun 1878 di  Amerika dan sejak tahun 1925 semua negara bagian harus melaporkan penyakit tersebut kepada petugas kesehatan masyarakat setiap minggu. Pada saat ini jenis-jenis penyakit yang harus dilaporkan di USA semakin bertambah banyak, termasuk HIV dan AIDS positif. Perkembangan secara ringkas pada abad ke 20 disajikan pada tabel 1.1.
Tabel 1.1.                   Perkembangan Surveilans 100 tahun terakhir
1888

1893

1911

1935
1943

1965

1966
Wajib lapor penderita dan yang meninggal karena penyakit menular di Italia.
Publikasi internasional penyebab penyakit oleh Internasional Statistical Institution London (1885)
Penggunaan data surveilans dan sistem Asuransi Nasional di Inggris
Survai Kesehatan Nasional d USA
Pencatatan pertama Penyakit Kanker (The Danish Cancer Registry) dan Surveilans morbiditas yang pertama kali di Inggris.
Didirikan Unit Surveilans Epidemiologi pada divisi penyakit menular di WHO Pusat, Geneva.
Pengembangan sistem sentinel untuk Doktor (General Practice) di Inggris dan Belanda

Pendahuluan Surveillance Kesehatan Masyarakat

Surveilans kesehatan masyarakat semula hanya dikenal dalam bidang epidemiologi. Namun dengan berkembangnya berbagai macam teori dan aplikasi surveilans diluar bidang epidemiologi, maka surveilans menjadi cabang ilmu tersendiri yang diterapkan secara luas dalam bidang kesehatan masyarakat. Bahkan Berkelman dkk pada tahun 1995 menyebutkan bahwa surveilans adalah dasar epidemiologi dalam ilmu kesehatan masyarakat modern.
Kata surveilans semula berasal dari bahasa Perancis “surveillance” yang secara harfiah dapat diartikan sebagai kata “mengamati tentang sesuatu”. Dalam aplikasi dibidang kesehatan masyarakat dapat diartikan secara luas sebagai upaya monitoring kondisi kesehatan secara ketat di masyarakat, sehingga dapat dipakai sebagai dasar perencanaan, monitoring dan evaluasi intervensi kesehatan masyarakat. Misalnya data surveilans yang dikumpulkan secara berkala dan berkesinambungan pada penderita HIV dan AIDS atau tuberkulosa dapat dijadikan dasar untuk menyelenggarakan program pencegahan dan pengobatan penyakit tersebut serta memonitoring dan mengevaluasi apakah program tersebut dapat terlaksana secara efektif dan efisien.
Karena konsep berkembang dan aplikasinya dibidang kesehatan masyarakat telah meluas, maka mengundang beberapa permasalahan baru dibidang kesehatan masyarakat. Pertama perlu acuan dengan konsep dan definisi serta isi kegiatan yang dimengerti oleh semua pihak, karena dibidang kesehatan masyarakat melibatkan berbagai macam bidang keilmuan dan keahlian, selain dari ilmu epidemiologi yang menjadi akar dari cabang ilmu surveilans kesehatan masyarakat. Kedua, masih sedikitnya informasi atau tulisan yang secara sistematis melaporkan kegiatan surveilans di Indonesia karena mungkin masih sedikitnya pemahaman penerapan cabang ilmu ini dibidang kesehatan masyarakat. Dimasa lalu, surveilans hanya terbatas pada aspek epidemiologi, yaitu tentang kegiatan untuk memonitoring frekuensi dan distribusi penyakit di masyarakat.
Tulisan ini merupakan review artikel yang memaparkan sejarah perkembangan, metode pelaksanaan serta evaluasi surveilans di bidang kesehatan masyarakat dalam era kesehatan masyarakat modern. Saat ini penerapan surveilans dibidang kesehatan masyarakat  telah mencakup masalah gizi, morbiditas, mortalitas (demografi) kesakitan, dan pelayanan kesehatan  serta beberapa faktor risiko yang terjadi pada individu, keluarga masyarakat dan lingkungan sekitarnya. Dari review ini diharapkan dapat bermanfaat bagi akademisi dan pelaksana program untuk memahami lebih lanjut tentang perkembangan kegiatan surveilans yang telah menjadi cabang ilmu yang sangat bermanfaat dalam perencanaan, monitoring dan evaluasi program-program kesehatan masyarakat.